Solusi Kreatif Kurangi Macet Jakarta: Janjian

e5cdf854a668295de929417d222dd233_sepeda_pagi

Saat akhir pekan adalah saatnya relax dan mencari hiburan. Pilihan paling mudah adalah nonton bioskop. Namun pilihan paling sulitnya adalah membuat janji dengan teman-teman yang ingin menonton bioskop juga. Dari sini, saya malah menemukan rumus jitu yang bisa dilakukan oleh warga DKI dalam mengurangi kemacetan Jakarta. Tidak perlu menunggu MRT dan monorel, tidak perlu menunggu perda pemprov, tidak ada biaya dan anggaran besar, bahkan sudah bisa dilakukan minggu depan! Bagaimana mungkin?


Puluhan tahun Jakarta macet disebabkan oleh satu hal yang paling krusial, namun banyak dari kita yang tidak menyadarinya, yaitu jam masuk kantor yang bersamaan. Ibarat nonton bioskop tadi, bayangkan jika distrik perkantoran di Jakarta itu adalah sebuah bioskop yang besar, yang tiap tahun bermunculan kantor-kantor baru atau dengan kata lain kursi penontonnya ditambah terus. Akan tetapi yang terlupakan adalah bioskop sebesar itu hanya punya satu jam pertunjukkan, katakanlah jam 8 pagi, lantas yang paling mengerikan adalah pintu masuk ke bioskop itu hanya satu! Pintu ini saya analogikan sebagai jalan raya atau akses ke distrik perkantoran yaitu Sudirman, Thamrin, dan Kuningan.

Sudah bisa kita bayangkan bagaimana suasana pintu masuk bioskop menjelang jam 8 pagi bukan? Akan datang berjuta-juta manusia, berusaha keras dan saling dorong-dorongan ingin masuk ke dalam bioskop lewat pintu yang sempit. Beruntunglah jika si pemilik bioskop mau berbaik hati dengan melakukan cara menonton bergilir, yaitu menambahkan jam pertunjukkannya menjadi beberapa jam tayang. Misalnya jam 8.00, jam 12.00, dan jam 15.00. Akhirnya semua penonton tidak berdesak-desakan lagi, dan semua bisa masuk bioskop dengan tenang dan damai.

Idealnya, jam masuk kerja yang bergiliran ini muncul dari peraturan daerah DKI, akan tetapi cara paling mudah dan singkat adalah jika banyak pemilik perusahaan atau kantor-kantor di distrik sibuk tadi, sepakat dan janjian untuk melakukan jam masuk kantor yang berbeda alias tidak berbarengan. Secara aturan hukum tenaga kerja, jumlah jam kerja sudah jelas yaitu 8 jam perhari, artinya geser saja waktu jam masuk dengan jam pulangnya. Jika sepakat masuk kantor jam 12 siang, maka 8 jam ke depan yaitu jam 20.00 malam baru boleh pulang, atau bahkan jika masuk jam 15.00 sore maka pulangnya jam 23.00 malam. Jika memang tidak memungkinkan seluruh kantor, maka bisa diberlakukan hanya per departemen. Jadi jam masuk dan pulang tiap departemen dibuat berbeda. Tapi bagaimana jika antar pekerja dari beda departemen musti melakukan rapat atau meeting? Gampang saja.. ya tinggal bikin janjian baru.

Dengan cara ini, maka “pintu masuk” bioskop tidak lagi akan berjejalan. Orang-orang yang biasanya harus berjuang menerobos pintu masuk pun jadi lebih tenang dan antri lebih santai. Efeknya, pola kerja jadi lebih teratur, pikiran lebih santai dan jernih, produktivitas tentu akan lebih baik. Semua terjadi hanya karena kita - sebagai pegawai yang musti masuk kantor bersamaan, sepakat dan janjian untuk ngantor di jam-jam yang tidak antri.

Kapan ini bisa dimulai? Bisa kapan saja bahkan besok, buatlah sebagai sebuah gerakan sosial se-DKI, maka makin banyak perkantoran yang terlibat, tentu makin longgar antrian yang bisa kita dapatkan. Solusi ini adalah solusi aktif atas masalah yang terjadi di DKI, sekaligus sebagai sikap partisipasi nyata warga pekerja DKI atas upaya pemprov DKI dalam mengurangi kemacetan. Bisa dimulai? :)

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tentang Penulis:
Anto Motulz adalah seorang blogger yang gandrung dengan segala hal yang berbau kreatif. Sejak dulu mencoba banyak hal yang berkaitan dengan aktivitas kreatif. Kini ia mencoba mencatat dan berbagi hal seru tentang kreativitas. Semoga bermanfaat ;)
Komentar, usulan? silakan kirim email ke motulz@gmail.com - atau follow twitter saya: @motulz

Tidak ada komentar:

Posting Komentar