Mengapa saya selalu bilang pada semua orang bahwa saya menyukai dinamika yang terjadi pada pelajaran berdemokrasi yang disuguhkan sejak pak Jokowi mencalonkan diri sebagai gubernur DKI bersama pak Basuki Purnama (Ahok). Mulai dari kebangkitan people power masyarakat yang sudah muak dengan kepemimpinan gubernur sebelumnya sampai dengan munculnya pendekatan-pendekatan baru dalam menangani tekanan pada pemerintah daerah untuk "memelihara" kultur yang salah, dan sampai sekarang dimana kejutan demi kejutan terus bermunculan.
Saya pikir kita semua tahu bahwa kebanyakan pengertian berdemokrasi yang diberikan pada bangsa ini selama 32 tahun saat Presiden Soeharto berkuasa bukanlah demokrasi dalam arti kata sebenarnya. Pengertian demokrasi terpimpin lebih bertitik berat pada urusan siapa yang memimpin yang memiliki kekuatan untuk mendefinisikan pengertian demokrasi itu sendiri. Oleh karena itu sebenarnya kita tidak pernah tahu demokrasi seperti apa yang cocok bagi kita semua.
Ada dua hal yang menarik yang saya pikir akan jadi babak baru dalam dunia pemerintahan kita yang kaitannya dengan hubungan antar pemerintah dan masyarakat tentunya, yaitu terpilihnya pak Joko Widodo sebagai Presiden RI yang ke 7 dan yang kedua hal tersebut secara otomatis membuka peluang Ahok untuk naik menggantikan pak Jokowi sebagai gubernur DKI Jakarta. Kita semua tahu betapa besar tentangan terhadap mereka berdua tapi juga betapa besar harapan yang ditumpangkan pada mereka berdua. Pertentangan yang terjadi pada kubu-kubu yang terbentuk begitu menyeramkan karena kita punya sejarah kelam yang mungkin saja bisa terjadi lagi jika pertentangan tersebut tidak bisa ditanggulangi dengan baik.
Pada tanggal 17 Oktober 2014, pak Jokowi mengunjungi saingan politiknya pada saat memperebutkan kursi Presiden, pak Prabowo di kediaman almarhum orangtua pak Prabowo, Jalan Kertanegara 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sebelum mengakhiri pertemuan, pak Prabowo mengarahkan badannya ke pak Jokowi, lalu tangan kanannya memberikan hormat. Aksi itu dibalas pak Jokowi dengan posisi tegap, lalu ia membungkukkan badannya.
Kelihatannya momen tersebut adalah momen biasa saja namun dampaknya terhadap suasana perpecahan akibat kubu-kubu yang terbentuk sangat dahsyat. Lumernya dinding es yang terbentuk mulai terasa mengikuti catatan dari mereka berdua yang di post di laman Facebook mereka masing-masing (catatannya pak Prabowo dan catatannya pak Jokowi).
Terlepas dari latar belakang yang ada, saya pikir kita semua berhutang budi pada mereka berdua atas pelajaran berdemokrasi yang sudah disampaikan pada kita semua. Mudah-mudahan setelah melewati ini semua bangsa kita bisa jauh lebih kuat dan tegar menghadapi tantangan-tantangan yang muncul dari luar dan juga dalam. Amiiien...:-)
Foto: Tribunnews / Dany Permana
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tentang Penulis:
Abang Edwin SA atau lebih dikenal dengan panggilan BangWin adalah seorang konsultan digital dan media sosial (Bangwinissimo Consulting). Ia juga dikenal sebagai pionir dalam bidang online community management semenjak tahun 1998. Ikuti jejak langkahnya dengan memfollow @bangwinissimo dan Facebook Profilenya.
Blognya bisa dibaca di bangwin.net


Tidak ada komentar:
Posting Komentar