Artis masuk ke ranah politik prakteknya sudah dilakukan sejak lama, kalau diluar negeri kita kenal sosok Arnold Schwarzenegger,
seorang aktor yang masuk ke dunia politik dan berhasil menjadi gubernur
negara bagian California di Amerika Serikat. Dan di Indonesia pun ada
aktor Rano Karno dan Deddy Mizwar yang juga berkiprah
di dunia politik dan mungkin banyak lagi. Pertanyaannya adalah apakah
pengalaman sebagai aktor atau selebritas itu bisa menjadi modal untuk
masuk ke dunia politik? Dari kacamata rakyat biasa seperti saya tentunya
butuh lebih dari hanya punya pengalaman sebagai aktor untuk bisa
dipercaya menjadi setidaknya wakil rakyat kita. Ya yang namanya wakil
rakyat tentunya harus tahu dan bisa memperjuangkan kepentingan rakyat.
Apakah selebritas-selebritas ini punya kualifikasi yang pas utk jadi
wakil rakyat? Atau hanya jadi kendaraan untuk mengambil hati rakyat demi
kepentingan partai? Coba kita simak hasil wawancara Najwa Shihab dalam acara Mata Najwa dengan Angel Lelga, caleg dari Partai Persatuan Pembangunan yang dulunya dikenal sebagai artis sinetron dan juga model.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Abang
Edwin SA atau lebih dikenal dengan panggilan BangWin adalah seorang
konsultan digital dan media sosial (Bangwinissimo Consulting). Ia juga
dikenal sebagai pionir dalam bidang online community management semenjak
tahun 1998. Ikuti jejak langkahnya dengan memfollow @bangwinissimo dan Facebook Profilenya.
Blognya bisa dibaca di bangwin.net
Revolusi Waktu dan Ruang Kerja
Bagi Anda yang bekerja di kota sepadat Jakarta tentunya tidak perlu dijelaskan lagi apa yang membuat kota ini belum bisa disebut sebagai kota yang nyaman untuk dijadikan tempat bekerja, namun yang ingin saya angkat di sini adalah bagaimana teknologi membuat kemungkinan terjadinya revolusi waktu dan ruang kerja dalam keseluruhan industri.
Polisi Cepek dan Cerminan Hukum Di Negara Kita
Dua hari yang lalu saya mengikuti “gumaman” twit salah seorang teman di Twitter, Pangeran Siahaan (@pangeransiahaan) yang bercerita tentang polisi cepek, polisi pembuka jalan (voorijder) yang sering disewa untuk membuka jalan agar tidak kena macet. Gumaman Pange (panggilan dari Pangeran Siahaan) setidaknya mengingatkan saya bahwa sayapun punya kegelisahan yang sama.
Pentingnya Konteks Dalam Foto Jurnalistik
"A picture is worth a thousand words"
Mungkin Anda semua pernah mendengar kalimat di atas, yang awalnya disampaikan oleh salah seorang editor di sebuah suratkabar tahun 1818 yang menggambarkan bahwa sebuah image/gambar/foto bisa “bercerita” banyak hal ketimbang kita menggambarkannya dalam bentuk tulisan. Mungkin terlalu naif ya tapi permasalahannya tidak semudah itu. Karena dengan tidak jelasnya konteks dalam gambar tersebut maka yang terbentuk adalah ribuan interpretasi yang tidak kelihatan yang mana yang benar. Bahkan di jaman teknologi internet dimana semuanya serba cepat, tanpa dibarengi sebuah konteks maka salah persepsi yang tersebar dan yang terjadi adalah su’udzon berjamaah.
Negara Solusi
Saya yakin kita semua sering mendengar kalimat di atas dan kaitannya dengan judul blogpost ini ya biasanya kalimat tersebut muncul untuk memunculkan “solusi-solusi” itu."…mending bayar aja kalau mau cepet masbro…"
Mobil Murah dan Rangkaian Permasalahannya
Pertama kali saya dikejutkan dengan munculnya mobil murah adalah pada saat melihat iklan Daihatsu Ayla dengan harga dibawah 100 juta. Reaksi spontan saya adalah, excited, karena pada akhirnya kendaraan ini bakal lebih kebayang untuk dimiliki. Ya bayangkan saja, di kota yang transportasi umumnya tidak layak ini apalagi yang didambakan selain bisa bepergian dengan nyaman, betul tidak. Macet? Ya macet itu sudah nasib dan tidak akan bisa diselesaikan lagi, intinya adalah bagaimana dalam mengarungi kemacetan kami tidak makin menderita dengan harus berdesak-desakan di transportasi umum yang sangat tidak layak tersebut. Dan saya yakin seyakin-yakinnya inilah yang ada didalam benak sebagian besar penduduk Jakarta.
Saling Jaga dengan Keterbukaan
Pada dasarnya manusia itu diajarkan untuk malu jika berbuat salah, itu yang diajarkan pada kita sejak kecil, namun kemungkinan yang membuat perbuatan salah itu tidak (terlalu) terlihat membuat manusia jadi berani melakukannya. Ini yang membuat sesuatu yang ‘tidak benar’ susah sekali dikoreksi terutama jika sudah berlangsung lama dan sudah dianggap wajar. Istilah “sudah jadi rahasia umum” ataupun “tahu sama tahu” ikut andil dalam memelihara kebiasaan-kebiasaan ini. Mulai dari hal-hal kecil seperti perilaku antri, perilaku berkendaraan sampai dengan tingkatan korupsi. Kata kunci yang bisa membangkitkan kembali perasaan malu tersebut adalah ‘Keterbukaan’.
Langganan:
Postingan (Atom)
