'Kristenisasi'



Dari dulu sebenarnya aku tinggal tunggu waktu untuk membuktikan bahwa cara-cara mereka melakukan ‘kristenisasi’ akan terantuk batu. Dan benar, kan? Kita berdoa saja semoga ‘ombak’ di social media soal video yang konon mengungkapkan adanya ‘kristenisasi’ terselubung di car free day itu tak mendatangkan perpecahan di tengah optimisme rakyat yang sedang menggebu-gebu lewat pemerintahan yang baru. 

Kalau kalian menemukan tanda petik pada saat kumenuliskan kristenisasi, semata itu menunjukkan bahwa cara mereka sebenarnya salah! Kristenisasi, seperti halnya ‘sasi-sasi’ yang lain memang tak bisa terhindarkan terutama pada ajaran-ajaran agama yang memang memiliki point pengembangan pada penyebaran ajaran pada orang-orang yang ‘masih di luar’ untuk ‘dimasukkan ke dalam’. Tapi tentu saja, cara penyebarannya harus penuh hikmat dan kebijaksanaan, tak bisa dibuat secara onar apalagi kasar!

Aku turut menyesalkan jika ada orang yang tersakiti pada setiap ‘kristenisasi’ seperti itu tapi sadarlah kalian sebenarnya tak sendirian! Akupun, meski agamaku Katholik, dulu kerap dijadikan sasaran tembak dan dibujuk-bujuk untuk masuk ke gereja mereka.

Pernah suatu waktu, akhir 90an dulu, aku dekat dengan seorang wanita. Niatku memacarinya karena dia dulu cantik dan tampaknya baik. Tapi waktu sedang PDKT, suatu sore dia mengajakku berdiskusi soal agama, sejak awal aku tahu dia beragama Protestan dari denominasi tertentu. Diskusi makin seru dan aku makin tertarik karena hal itu seolah menandakan bahwa wanita yang kudekati itu tak hanya cantik dan baik tapi juga pintar serta berwawasan luas. Tapi ada sebuah titik dimana ia menyentuh titik sensitifku, “Agamamu itu sesat, Donny! Ia tak akan mampu menyelamatkanmu maka ayo ikutlah pergi ke gerejaku denganku!”

Tiada ampun lagi, aku bilang padanya bahwa itu akan jadi pertemuan terakhirku dengannya.
Sesudahnya, tak sekalipun aku mau diajak bertemu dengannya dan tak sampai hati aku untuk mengkhianati akal budiku kalau aku harus menghiba mengajaknya untuk ketemuan apalagi kencan!

Walah, kok jadi ngelantur! Jadi gini, aku punya beberapa tips untuk menghentikan gerak mereka berdasarkan pengalamanku sendiri. Oh ya, sebelum terlupa, aku ingin menyatakan bahwa tak semua denominasi dan orang-orang Kristen berpandangan bahwa kristenisasi harus dilakukan dengan cara seperti itu.

Pintu-pintu masuk

Orang-orang seperti itu biasanya memanfaatkan momentum-momentum khusus untuk datang dan menyampaikan niatnya.
Momen ketika kita atau kerabat sedang sakit adalah salah satu ‘pintu terbaik’ mereka! Biasanya mereka menawarkan ‘kesembuhan’ dan ‘pendampingan’ dengan embel-embel ‘ikutlah kami, ikutlah ke gereja kami’. Padahal, secara logika, kalau mereka memang mau menawarkan kesembuhan dan pendampingan yang benar-benar dari Tuhan, bukankah ia akan datang tanpa syarat dan embel-embel?

Pintu-pintu masuk lainnya biasanya ketika kita sedang bingung mencari pekerjaan, putus cinta, kehilangan pekerjaan, pokoknya saat-saat dimana kita merasa berada pada titik-titik nadir itulah mereka datang menyaru sebagai penyelamat dunia!

Tolak sejak awal

Ketika mereka sudah menyatakan niatnya dan kamu keberatan dengan ajakannya, tolaklah sejak awal! Kesalahan orang-orang yang akhirnya baru marah belakangan menghadapi orang-orang seperti itu adalah karena mereka tak tegas menolak atau sungkan jika harus menolak sejak awal! Mereka itu sudah terlatih untuk mengelola celah, jadi ketika kamu tak menolak, bagi mereka itu adalah celah dan hal itu akan terus didekati oleh mereka hingga kalian muak atau akhirnya menerima.

Dari pengalamanku, kalau mereka sudah mulai berdalih, “Kamu mau diselamatkan?”, “Bapak mau ikut jalan Tuhan?” atau yang senada biasanya akan kujawab dengan tegas dan singkat, “Maaf, saya tidak tertarik!” Kalau mereka terus membombardir dengan berbagai macam gaya, pastikan untuk tidak melayaninya.

Masih ngeyel?

Tapi bagaimana kalau masih ngeyel?
Tergantung! Kalau kamu pengen iseng sekali-kali berdebat dengan mereka, ajaklah berdebat. Tapi satu hal yang kamu perlu tahu sebelum perdebatan adalah, mereka itu sudah terlatih dengan berbagai macam kondisi perdebatan mulai dari yang ringan sampai yang paling berat. Jadi kalau sampai argumenmu terpatahkan atau kamu tak bisa mematahkan argumen mereka, jangan patah arang karena sekali lagi, mereka itu well-trained!

Lalu bagaimana kalau ngeyelnya sudah melampaui batas misalnya mengancam dan menjelek-jelekkan agama kita?
Tegaslah tapi jangan main kasar karena kalau kamu main kasar, kamu sudah masuk ke dalam perangkapnya dan sangat mudah bagi mereka untuk bilang, “Ya pantas saja kamu main pukul, agamamu itu sih! Makanya bergabunglah dengan agamaku dan gerejaku!”

Ancam saja mereka untuk dilaporkan ke polisi karena kalian kan tinggal di negara hukum. Kalau masih nggak takut juga, ancam juga pendeta/pimpinannya untuk dilaporkan sekalian.

***

Aku juga ingin menyampaikan pesan kepada mereka yang kerap mengadakan kristenisasi dengan jalan-jalan yang tak semestinya. Berhentilah melakukan hal-hal seperti itu. Pikir dan sangkamu hal itu akan menyenangkan hati Tuhan dan membuat kerajaanNya di dunia ini lebih besar, eh? Belum tentu, kan? Yang sudah barang tentu, makin banyak orang baru kau dapatkan, makin menggembung pula pundi-pundi uang perpuluhan dan makin besar pulalah lingkar perut para pemimpin-pemimpin yang tamak akan uang tapi tampak tenang bagai air nan menghanyutkan!

Menyebarkan ajaranNya itu perlu dan memang jadi salah satu tugas umat. Tapi, lakukan hal itu dengan cara yang lebih bermartabat. Jadilah saksi akan kehebatan dan kasihNya melalui tanggung jawabmu sehari-hari. Bekerjalah secara jujur dan baik hormati atasanmu dan hargai bawahanmu. Bahagiakanlah keluargamu dalam kasih serta berperilakulah yang baik di masyarakat sekitar dan membantu yang kekurangan. Dari situ, orang-orang itu tak perlu kamu ajak jadi Kristen, karena kalau mereka tertarik oleh karena perilaku hidupmu, mereka akan datang sendiri dengan damai dan penuh sukacita.

“Lho tapi kan kita diminta untuk menjadikan semua bangsa muridNya?”
Benar… Tapi tunggu sebentar, memangnya kamu sudah jadi muridNya? Kamu sudah menjalankan semua aturan dan menjauhi laranganNya? Sudah menjadikan anak-anak istrimu dan orang-orang terdekatmu jadi muridNya juga?

“Sudah!”
Serius? Wow! Sudah mampu mencintai musuhmu secara maksimal? Sudah berapa kali memaafkan orang-orang yang bersalah kepadamu? Berapa kali? Hukumnya tujuhpuluh kali tujuh!
Sudah memberi minum dan makan orang-orang yang paling terhina?

“Ah tapi pihak mereka juga sering pake cara-cara menjijikkan untuk menyebarkan agama mereka?”
Ya itu urusan mereka! Kalau kamu adalah bagian dari mereka, lanjutkanlah itu tapi kalau kamu yakin agamamu adalah yang terbaik, aku berpikir harus ada pembeda antara kamu dan mereka. Caranya? Tunjukkan keterbaikannya itu melalui hidupmu dan dirimu sendiri!

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tentang Penulis: 
Donny Verdian, biasa dipanggil DV, blogger sejak 2002. Berdomisili di Sydney, Australia, sehari-hari bekerja sebagai seorang senior IT developer di sebuah perusahaan telco terkemuka di Australia. 
Simak blognya di donnyverdian.net atau follow @dv77 dan simak pula halaman Facebook Profilenya

2 komentar: